• Kamis, 8 Desember 2022

Peneliti UGM Masuk Daftar 100 Orang Berpengaruh Dunia 2021

- Minggu, 19 September 2021 | 12:15 WIB
Prof dr. Adi Utarini, MSc., MPH, PhD (dok. UGM)
Prof dr. Adi Utarini, MSc., MPH, PhD (dok. UGM)

YOGYAKARTA, pojokmalioboro.com - Prof dr. Adi Utarini, MSc., MPH, PhD, peneliti sekaligus Guru Besar FKKMK UGM, masuk daftar 100 orang berpengaruh di dunia tahun 2021 versi majalah TIME yang dirilis pada Rabu, (15/9/2021) lalu.

Prof dr. Adi Utarini atau yang akrab disapa Prof. Uut ini masuk kategori pionir karena memimpin penelitian teknologi Wolbachia untuk pengendalian dengue di Yogyakarta bersama World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta.

Kolaborasi WMP Yogyakarta (sebelumnya bernama Eliminasi Dengue Project - EDP) merupakan kolaborasi antara FK-KMK UGM, Monash University dan Yayasan Tahija. Teknologi Wolbachia ditemukan oleh Founder dan Direktur WMP Global, Prof. Scott O'Neill di tahun 2008.

Baca Juga: Kumpul di Pulau Seribu, Senator se-Wilayah Sumatera Bahas Amandemen Hingga Perubahan Iklim

WMP yang diinisiasi oleh Monash University ini merupakan lembaga nonprofit yang hadir dengan tujuan melindungi komunitas global dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Secara garis besar kewilayahan, WMP beroperasi di 11 negara termasuk Indonesia.

“Ini merupakan berkah dari Allah SWT bagi tim penelitian kami di World Mosquito Program Yogyakarta. Ini adalah apresiasi bagi peneliti-peneliti dan seluruh tim yang telah terlibat dalam penelitian, juga mitra kami yaitu Monash University, World Mosquito Program Global, dan Yayasan Tahija sebagai lembaga filantropi yang mendukung penuh penelitian ini. Serta apresiasi bagi masyarakat Yogyakarta yang telah sangat terbuka dengan inovasi, dan pemerintah daerah Yogyakarta yang mendukung penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat lebih luas, untuk mengurangi beban masyarakat karena dengue,” tutur Prof. Uut.

dr. Riris Andono Ahmad, M.P.H., Ph.D, Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta dan Direktur Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM, menyampaikan bahwa penelitian pengembangan teknologi Wolbachia telah dimulai sejak tahun 2011. Menurutnya, fase awal penelitian dilakukan untuk memastikan keamanan Wolbachia, dilanjutkan dengan pelepasan di area terbatas.

Baca Juga: Setiap Bahas Undang-Undang, DPR Selalu Utamakan Kepentingan Rakyat

Selanjutnya, dr. Riris menjelaskan bahwa di tahun 2017, uji efikasi Wolbachia dengan metode Randomised Controlled Trial dilakukan di Kota Yogyakarta dengan membagi wilayah Yogyakarta menjadi 24 klaster, dengan 12 klaster mendapatkan intervensi Wolbachia, dan 12 klaster lainnya menjadi area pembanding.

“Hasil uji efikasi Wolbachia ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, yaitu Wolbachia efektif menurunkan 77% kasus dengue, dan menurunkan 86% kasus dengue yang dirawat di rumah sakit,” papar dr. Riris atau dr. Donnie.

Halaman:

Editor: Ibrahim Umar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mahasiswa UGM Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

Jumat, 24 September 2021 | 19:55 WIB

Perjalanan "Kang Helm" dari Medan Hingga ke Seluruh Dunia

Selasa, 21 September 2021 | 07:49 WIB

Di Samping Jadi Guru Pesantren, Juga Usaha Benih Ikan

Selasa, 21 September 2021 | 03:00 WIB
X