AS di Bibir Jurang Resesi, Ini Dampaknya bagi Perekonomian Indonesia

- Jumat, 10 Juni 2022 | 15:29 WIB
Ilustrasi inflasi (Pixabay/mohamed_hassan/PojokMalioboro.com)
Ilustrasi inflasi (Pixabay/mohamed_hassan/PojokMalioboro.com)

POJOKMALIOBORO.com - Amerika Serikat (AS) kini sudah berada di bibir jurang resesi. Lonjakan inflasi direspons dengan agresifitas kenaikan suku bunga acuan menarik ekonomi AS ke bawah.

Berdasarkan pelacak GDP The Fed, GDPNow Fed Atlanta, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal kedua tahun ini hanya sebesar 0,9%. Adapun, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama telah turun sebesar 1,5%.

GDPNow mengikuti data ekonomi secara real time dan menggunakannya untuk memproyeksikan arah ekonomi. Data pada hari Selasa lalu, dikombinasikan dengan rilis terbaru lainnya, menghasilkan model yang menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi dari sebelumnya 1,3% menjadi 0,9%.

Baca Juga: PT KA Logistik Buka 6 Lowongan Pekerjaan untuk Lulusan D3, S1 dan S2

Secara rinci, pengeluaran konsumsi pribadi, ukuran pengeluaran konsumen yang berkontribusi hampir 70% dari PDB, mengalami penurunan menjadi 3,7% dari perkiraan sebelumnya 4,4%. Hal yang sama juga terjadi pada investasi domestik swasta bruto riil yang sekarang diperkirakan sebesar 8,3% dari sebelumnya 8,5%.

Sementara itu, ada sedikit perbaikan dari sektor perdagangan dengan menurunnya defisit hingga US$ 20 miliar menjadi US$ 87,1 miliar pada April. Hanya saja, angka tersebut masih tergolong tinggi menurut standar historis.

"Kita perlu melihat guncangan masa depan pada siklus bisnis. Perkiraan saya adalah ekonomi akan melambat untuk kembali ke tingkat pertumbuhan tren jangka panjang 1,8%," tutur Joseph Brusuelas, kepala ekonom di perusahaan konsultan RSM, seperti dilansir CNBC International, Jumat 10 Juni 2022.

Baca Juga: Mulai Hari Ini Korps Brimob Dipimpin Pati Berpangkat Jenderal Bintang Tiga

Hal yang sama juga diramalkan oleh mantan Kepala Ekonom SEC yang juga akademisi dari University of Southern California Marshall School of Business, Larry Harris. Ia menyebutkan bahwa resesi diperlukan untuk menahan laju inflasi yang saat ini cukup tinggi.

Diketahui, data terbaru bulan April 2022 menuliskan inflasi di AS telah mencapai 8,2%.

Halaman:

Editor: Putri Susanti

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pelantikan AMPI Turki, Ini Pesan Jerry Sambuaga

Selasa, 24 Januari 2023 | 08:06 WIB

Pemerintah AS Larang Warganya ke Indonesia, Ada Apa?

Selasa, 15 Februari 2022 | 09:27 WIB

Ribuan Warga Australia Demo Tolak Vaksinasi Corona

Minggu, 21 November 2021 | 09:30 WIB

Prancis Diserang Gelombang 5 Covid, Kasus Baru Rekor

Kamis, 18 November 2021 | 08:48 WIB
X