• Selasa, 26 September 2023

Catatan Ketua MPR RI, Salah Kelola SDA di Masa Lalu Tak Boleh Berulang

- Sabtu, 6 November 2021 | 12:00 WIB
Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI/ Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Hukum UNPAD/Dosen Universitas Terbuka  (Foto: dok.MPR RI)
Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI/ Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Hukum UNPAD/Dosen Universitas Terbuka (Foto: dok.MPR RI)

PERKEMBAGAN kebutuhan dan permintaan pasar dunia akan nikel serta bauksit otomatis menguatkan posisi tawar Indonesia. Menjadi sangat ideal jika nilai tambah nikel dan bauksit diproses di dalam negeri demi kesejahteraan seluruh rakyat.

Dengan keberanian dan konsistensi mengolah sumber daya alam (SDA) menjadi produk bernilai tambah, kesalahan mengelola SDA sebagaimana terjadi di masa lalu tak lagi berulang di era sekarang.

Roda Perubahan zaman yang berputar begitu cepat menghadirkan keberuntungan bagi Indonesia. Layak untuk mengatakan demikian karena nikel dan bauksit mendadak jadi komoditas mineral yang sangat strategis dan sangat dibutuhkan bagi dunia yang terus berubah.

Baca Juga: Sugeng Suparwoto: Transisi Energi adalah Keharusan

Seperti diketahui, komunitas global terus berupaya membangun kesepakatan menghentikan pemanfaatan energi fosil.

Dan, sebagai bagian dari upaya memulihkan keseimbangan alam semesta, telah muncul keinginan kuat untuk beralih menggunakan energi bersih, dalam arti energi yang ekses atau dampak buruknya relatif minim terhadap aspek kesehatan dan lingkungan hidup, serta aspek sosial dan kultural.

Untuk tujuan itulah dunia sekarang sedang bersiap menjalani proses transisi dari penggunaan energi fosil ke energi terbarukan.

Baca Juga: Junimart Girsang Minta Gelar Seleksi Ulang CPNS Secara Menyeluruh

Untuk membuktikan bahwa persiapan proses transisi itu bukan sekadar omongan atau jargon, layak untuk melihat inisiatif atau rencana aksi yang sudah dimulai oleh beberapa negara. Sebutlah Amerika Serikat (AS) yang telah kembali pada perjanjian iklim PBB di Paris.

Presiden AS Joe Biden sudah menyiapkan proposal atau rencana belanja sampai dua triliun dolar AS untuk memodernisasi semua jaringan infrastruktur di negeri itu.

Proposal itu memuat rencana membangun ketersediaan jaringan internet yang lebih luas, teknologi untuk mitigasi perubahan iklim, menyiapkan tenaga kerja untuk energi bersih, serta rencana membangun jaringan 500.000 stasiun pengisian mobil listrik paling lambat pada tahun 2030.

Baca Juga: Johan Rosihan Kritik Kinerja Pemerintah Soal Rehabilitasi Hutan Bakau

AS berambisi mewujudkan listrik bersih, pembangkit energi bersih seperti tenaga angin dan surya, hingga penyimpanan energi dengan baterai canggih.

Komitmen komunitas global menghadirkan energi bersih itulah yang membuat komoditas seperti nikel dan bauksit menjadi sangat strategis. Di perut bumi Indonesia, dua komoditas strategis ini tersedia dalam jumlah memadai sehingga membuat posisi tawar Indonesia menguat.

Setelah diolah, bijih nikel bisa menghadirkan sejumlah produk turunan yang nilai tambahnya berkali-kali lipat. Bijih nikel kadar rendah dimanfaatkan untuk membuat baterai penggerak kendaraan listrik.

Halaman:

Editor: Ibrahim Umar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Review Politik Hari Ini

Sabtu, 2 September 2023 | 16:00 WIB

May Day 2023

Senin, 1 Mei 2023 | 21:36 WIB

Nyepeda dan Krisis Energi oleh: Afnan Hadikusumo

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 06:50 WIB

Ekuilibrium: Agama dan Negara

Senin, 27 September 2021 | 11:30 WIB

Mencari Keadilan dalam Perpajakan

Jumat, 27 Agustus 2021 | 11:16 WIB
X