• Kamis, 8 Desember 2022

Partai Gelora: Pemerintah Tidak Perlu Buat 'Mantra-mantra' untuk Sekedar Memberi Rasa Aman Publik soal Resesi

- Kamis, 21 Juli 2022 | 10:24 WIB
Partai Gelora: Pemerintah Tidak Perlu Buat 'Mantra-mantra' untuk Sekedar Memberi Rasa Aman Publik soal Resesi (Tangkapan layar Gelora Talks#54/PojokMalioboro.com)
Partai Gelora: Pemerintah Tidak Perlu Buat 'Mantra-mantra' untuk Sekedar Memberi Rasa Aman Publik soal Resesi (Tangkapan layar Gelora Talks#54/PojokMalioboro.com)

Fuad berharap pemerintah segera membenahi pengeluaran yang tidak perlu atau tidak penting, karena akan membebani APBN seperti proyek pembanguna Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kerata Api Cepat Jakarta Bandung dan lain-lain.

"Kita juga harus mendorong kemandirian pangan, banyak sekali sawah berubah fungsi menjadi lahan komersial. Impor beras memang tidak terdengar kuat, namun permintaan gandum sebagai bahan pangan pengganti beras cukup tinggi. Intinya kita meningkatkan kemampuan internal terlebih dahulu," katanya.

Baca Juga: Diduga Alami Rem Blong, Truk Pertamina Tabrak Sejumlah Kendaraan, Ini Penjelasan PT Pertamina

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Gunawan Tjokro mengatakan, pengusaha optimis bisa melewati kondisi sulit atau krisis. Hal ini, dengan jalan merespon dengan pengetatan pengeluaran dan meningkatkan kapasitas peluang pemodalan dari perbankan.

"Kami ini modalnya optimis, bahkan saat krisis ada opsi peluang pinjaman malah kita optimalkan. Terpenting cash flow terus berjalan," kata Gunawan.

Bagi pengusaha, lanjut Gunawan, dampak krisis terjadi dari konsumen menahan konsumsinya. Kemudian juga disikapi pengusaha dengan menahan atau menunda capex nya dan fokus pada pengeluaran rutin terlebih dahulu.

Baca Juga: Ini Cara Partai Gelora Mengatasi Harga Cabai yang 'Semakin Pedas'

"Sebab kalau masuk resesi, cash flow berantakan, akan sangat membahayakan," terangnya.

Gunawan lantas menceritakan pengalamanya saat terjadi krisis tahun 1998 silam. Saat itu, permintaan konsumen anjlok hanya tinggal sekitar 20 persen.

"Karena mampu menahan pengeluaran, kita malah mengambil alih tiga perusahaan yang sudah mau bangkrut. intinya persiapan cashflow harus baik, saat musim paceklik. Setiap krisis selalu ada kesempatan, kita juga tak boleh over reaction atau respon berlebihan. Kalau terlalu reaktif malah akan menciptakan lubang resesi sendiri," pungkasnya. *

Halaman:

Editor: Ibrahim Umar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

SKI DIY Cermati Integritas dan Independensi KPK

Minggu, 16 Oktober 2022 | 10:41 WIB

Musda SKI DIY: Lengkapi Struktur Sampai Tingkat Kelurahan

Minggu, 11 September 2022 | 10:57 WIB
X