• Jumat, 28 Januari 2022

Prediksi Lanskap Siber Asia Tenggara 2022, Ini Kata Pakar Kaspersky

- Rabu, 12 Januari 2022 | 19:38 WIB
Ilustrasi cryptocurrency  (Pixabay/vjkombajn)
Ilustrasi cryptocurrency (Pixabay/vjkombajn)

POJOKMALIOBORO.com - Dua tahun setelah pandemi, Asia Tenggara (SEA), dan belahan dunia lainnya, bersiap untuk satu tahun pemulihan pada tahun 2022.

Perusahaan dan individu dari segala skala siap untuk kembali ke keadaan normal, dengan memulai kebijakan bekerja dari kantor, sekolah tatap muka, dan berbagai aturan perjalanan yang diterapkan.

Dan seperti yang disaksikan tahun ini, para pelaku kejahatan siber dapat menargetkan berbagai industri, mulai dari maskapai penerbangan, rumah sakit, situs web pemerintah, bank, perusahaan telekomunikasi, universitas, e-commerce, dan bahkan raksasa media sosial melalui berbagai cara canggih.

Baca Juga: Larangan Berskuter di Jalan Jogja, Ini Tanggapan Anggota DPRD Kota Yogyakarta

Untuk memandu organisasi dan individu menavigasi lanskap ancaman siber yang telah berubah dan mengamankan fase pemulihan negara-negara di kawasan ini, para ahli dari Tim Riset dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky hari ini mengungkapkan empat tren teratas yang harus diwaspadai tahun ini di Asia Tenggara.

Penurunan Serangan Ransomware yang Ditargetkan

Masa pandemi bertepatan dengan munculnya serangan ransomware yang ditargetkan di seluruh dunia yang berfokus pada sektor paling kritikal serta bisnis yang sensitif terhadap gangguan.

Beberapa perusahaan dari Asia Tenggara termasuk di antara korban serangan tersebut. Namun, dengan kerja sama internasional yang kuat dan beberapa gugus tugas untuk melacak kelompok ransomware, para ahli Kaspersky percaya bahwa jumlah serangan semacam itu akan berkurang selama tahun 2022.

Baca Juga: Puan Pastikan RUU TPKS Disahkan Jadi Inisiatif DPR Pekan Depan

"Inisiasi awal dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS), yang melibatkan FBI, dan bahkan keapabilitas ofensif Komando Siber AS. Kaspersky mengantisipasi bahwa serangan tersebut mungkin dapat muncul sewaktu waktu, dengan fokus untuk menyerang negara-negara berkembang dengan kemampuan investigasi siber minimal atau negara-negara yang bukan sekutu AS," kata Direktur Global Research & Analysis Team (GReAT) untuk Asia Pasifik di Kaspersky, Vitaly Kamluk, Rabu 12 Januari 2022.

Halaman:

Editor: Putri Susanti

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Simak 5 Tips dari Kominfo Cara Searching di Google

Senin, 20 Desember 2021 | 21:06 WIB
X